Bersahabat dengan Malaikat
Santri Hafid - Di dalam al-Qur’an tertulis; Nahnu auliyaakum fil hayatitid dunya wafil akhirah. Artintinya; kita adalah teman dekatmu di dunia dan di
akhirat. Maksud dari ayat di atas adalah malaikat sendiri yang mengklaim
bahwa mereka adalah teman dekat selama di dunia dan di akhirat kelak selama
kita mempunyai amal dan bekal yang cukup untuk dibawa bertemu Allah nantinya.
Seperti salah satu wali terkenal dari pulau Madura
siapa lagi kalau bukan Syaikhona Kholil Bangkalan yang sering sekali
diminta mentalqin orang-orang yang sedang sakaratul maut. Suatu saat
beliau di panggil oleh orang Surabaya yang akan wafat alias sakaratul maut,
karena beliau kiai besar yang memiliki banyak santri dan jadwal yang padat maka,
tak kala beliau baru sampai di tempat beliau bertutur. “Sudah ya nak. Aku Kholil Bangkalan. Pokoknya kalau ditanya Mungkar dan
Nakir, suruh mereka menunggu Kholil.”
Di lain cerita ditinggal ngajar dan bilang kalau
ditanya man rabuuka suruh menunggu
Kholil. Maka jangan heran kalau wal-wali Allah sangat santai sekali saat
ditanya oleh malaikat Mungkar dan Nakir karena mereka sudah ‘bersahabat’
dengannya. Karena malaikat juga mengklaim mereka (para wali) sebagai teman
dekatnya.
Umar Bin Khattab saat ditanya oleh malaikat malah di bentak balik oleh beliau karena dianggap tidak sopan. “Ana shoohibu akribu kholki ila rabbika.” Aku ini teman dekat kekasihnya Pangeran. Maka Umar pun menyuruh mereka untuk sopan sedikit. Makna dari kalimat Auliya’ di atas adalah teman dekat. Jadi siapa saja boleh berteman dekat dengan malaikat asalkan ‘berani’ saja untuk mendekat kepada mereka.
Nah, bagaimanacara berteman dengan malaikat? Yang teman sesama manusia saja belum baik, kok, mau berteman dengan malaikat!! Tidak ada cara lain selain memperbanyak bekal iman dan taqwa kita kepada Allah SWT. [Santri Hafid]
