Cara Menikmati Ibadah

 

           Santri Hafid - Iman adalah percaya kepada tuhan dan sebaik baiknya iman adalah iman yang diiringi dengan ilmu. Dan manusia itu tentu tidak lepas dari nafsu dan bila itu dilarang maka tentunya akan berat. Apabila manusia tanpa nafsu itu juga bahaya bagi kita, mungkin bisa timbul pikiran “jangan-jangan ia ‘Homo’?” dan masalah rumit lainnya. Tapi Rasulullah sudah memberikan resep bagi kita sebagai ummatnya agar kita bisa meninmati ibadah layaknya beliau. Walaupun tak harus sama.

Apa itu resepnya? Bagaimana cara menikmati ibadah? Jawabannya yakni kita harus senang ibadah, senang menikmati barang-barang halal. Saya kasih contoh; misalkan ada seorang laki-laki yang main dugem semalaman suntuk dikelilingi cewek cantik, pasti yang ia rasakan adalah kenyamanan dan mungkin merasa puas.

Namun bagi suami-istri mereka bisa terhibur dengan sesuatu yang halal beda dengan orang yang dugemman tadi. Kiai-kiai sholeh yang ngaji ilmu bersama santrinya tentu nikmatnya tak kalah dengan dugem, bahkan mengalahkan nikmatnya orang yang berbuat maksiat.

          Makanya Allah berfirman dalam Al-Qur’an;”Qul bifadzlillahi wa birahmatihi fabidzalika falyafrahuu.” Di sana tercantum bahwa Allah menyuruh kita untuk bahagia. Sebab tadi, apabila di dunia ini tempa maksiat bagi orang yang bermaksiat dan untuk mencari kesenangan dunia harus kita lawan dengan senang beribadah.

Senanglah dalam ibadah walaupun tau ibadah kalian sulit untuk khusyuk, apabila kita sudah merasa bahagia dengan ibadah yang kita lakukan sehingga dengan senangnya ibadah tersebut nafsu kita sudah tercukupi. Karena kita sudah berhasil bahagia.

Apabila Bilal sang tukang adzan tidak kunjung datang, Nabi itu bingung sambil mondar-mandir terus beliau ditanya oleh Aisyah “Ya Rasulullah, kenapa engkau mondar-mandir?” Rasululah menjawab “Kenapa Bilal belum datang?” Dan kebiasaan Bilal serta para sahabat, apabila akan dikumandangkan adzan mereka mengetuk pintu rumah Nabi dengan ujung kuku mereka.

Nabi pun bersabda pada Bilal “Arihna ya Bilal bis sholat.” Artinya “Istirahatkanlah kami Bilal dengan salat.” Dengan salat itulah semua kegalauan dan semua masalah beliau akan hilang dengan salat entah mulai masalah usaha beliau untuk menyebarkan agama Islam yang mendapat ancaman akan dibunuh oleh orang-orang Kafir dan lain sebagainya.

          Namun apapun masalahnya, sebenarnya kita hanya berhadapan dengan mahluk dan semua masalah yang berkatan dengan dunia ini akan hilang ketika salat mengapa bisa demikian. Coba perhatikan ketika kita takbir berarti Allah Maha Besar (dari segala sesuatu) Dengan lunturnya semua masalah dunia yang kita pikul maka akan runtuh seketika saat kita salat dan itu In sya Allah akan membuat kita nyaman dalam beribadah dalam artian tidak ada beban saat kita bertemu dengan Allah. Salah satu makalah mengatakan bahwasanya Rahatul Mu’min as-sholatu; Istirahatnya orang Mu’min adalah salat.

          Dari saking nyamanya Nabi ketika salat, sampai-sampai Aisyah yang secantik itu tidur di depan Nabi (Tidur terlentang) Nabi tetap melanjutkan salat. Sampai Aisyah berkata “Salat beliau begitu lama! Sampai saya tertidur.” Beda halnya dengan kita, pasti langsung tancap gas kalau sudah gitu.

Ada satu wali bernama Habib Ali Zainal Abidin yang awalnya ia tidak berniat salat 1000 rakaat, ketika beliau takbir karena merasa nyaman beliau mengulangi lagi sampai tak sadar bahwa telah mencapai 1000 rakaat. Nah dari sini saya hanya memberikan kuncinya, sekarang kuncinya ada di tangan kalian semua. Tinggal mau membuka atau tidak? Wassalam [Santri Hafid]


Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url