Jangan Khusyuk-khusyuk! Nanti Tambah Bodoh!

Santri Hafid - Pernah mendengar orang saleh yang menentang Nabi? Apakah ada? Kalau memang ada siapakah mereka? Jawabanya ada, dan mereka adalah kaum Khawarij. Mereka itulah adalah segolongan kaum yang keluar dari ajaran Ahlusunnah Wal Jama’ah. Pernah suatu ketika Nabi membagikan nghanimah (harta rampasan perang) ada salah satu orang yang memprotes keputusan Nabi dalam pembagian nghanimah tersebut.

Nabi itu figur yang ‘unik’ karena pada saat pembagian orang-orang saleh/yang imannya kuat hanya diberi sedikit sedangkan yang baru masuk islam dan kaum ‘abangan’ malah diberi banyak, namun sahabat tidak ada yang protes dengan keputusan Nabi, dan meyakini hal itu pasti ada hikmahnya. Datang lah orang Khawarij sehabis salat sunnah dan berkata kepada Nabi. “Ini pasti pembagian yang bukan mencari rida Allah, kamu beri mereka banyak karena hubungan saudara!

Nabi pun marah besar, karena sikapnya yang tidak sopan itulah para sahabat ingin membunuhnya namun perbuatan tersebut dicegah oleh Nabi lalu beliau bersabda; “Salatmu dibanding salatnya tidak ada apa-apanya tapi dia telah keluar dari Islam karena curiga terhadap kebenaran.” Dari sini lah jikalau jadi orang saleh itu harus berhati-hati karena faktor kesalehan iu terkadang jadi alat legitimasi setan. Apabila ia berbicara pasti dipercaya meski sebenarnya ia bodoh atau tidak mempunyai ilmu sama sekali.

Dalam bayangan kaum Khawarij mereka menggambarkan Nabi sebagai sosok yang selalu harus salat Qabliyah, Bakdiyah, Dhuha, puasa Senin-Kamis dan ibadah ibadah sunnah yang lainnya. Karena jika tidak seperti demikian mereka akan mengira “Kok Nabi seperti itu?” dan anggapan-anggapan buruk lainnya.

Padahal tidak juga seperti itu, coba bayangkan! Misalkan seluruh umat Muslim harus menjalankan salat Qabliyah-Bakdiyah yang jika ditotalkan jumlahnya bisa menjadi 15 rakaat dan ditambah dengan salat wajib 17 rakaat per-hari disusul dengan dzikir dan embel-embel yang lainnya. Pastinya orang non-Muslim yang ingin masuk Islam akan berpikir “Kok banyak sekali ibadahnya. Sulit sekali jadi orang Islam.” Akhirnya mereka tidak jadi masuk Islam.

Imam Syafi’I berkata “jika kamu melakukan sesuau yang bersifat sunnah jika mau ya lakukan saja. jika tidak ya tidak apa-apa.” Imam Nawawi dalam kitabnya yang berjudul Majmu’ Nabi sendiri bersabda makruh hukum Tawaf menaiki Unta namun Nabi sendiri malah melakukan tawaf dengan menaiki Unta. Dari situlah kita bisa mengambil kesimpulan bahwa Tawaf menggunakan Unta itu tidak apa-apa tapi tidak menghilangkan sifat Makruh. Hal itu menjadi wajib bagi Nabi karena mempunyai kewajiban untuk menerangkan bahwasanya hal itu tidak diharamkan. Sebagaimana Allah berfirman dalam Al-Qur’an “Allah menghendaki kalian kemudahan dan tidak menghendaki kalian kesulitan.”

Satu contoh lagi ada salah satu sahabat Nabi yang sudah tua. Setiap kali ia pergi ke masjid ia selalu menunggangi Onta. Namun saat imam sudah Takbir Untanya terlepas dari ikatanya dan ia memilih mengejar Untanya dari pada ikut takbir dan salat. Dan ia baru kembali ketika para jamaah sudah selesai salat. Lalu ada pemuda yang berkata “Lihat orang tua itu! Katanya sahabat Nabi, tapi malah lebih memilih mengejar Untanya dari pada salat.” Hal itu pun didengar oleh si orang tua tersebut.

Aku ini sudah tua cung! Dan rumahku juga jauh, bagaimana caraku pulang kalau Untaku kabur. Dan dari pada aku menyalahkan ibadah gara-gara Untaku kabur mending kukejar untaku.” Jika ibadah sudah menjadi permasalah berarti sama saja kita tidak ridha/tidak ikhlas dengan ibadah yang kita lakukan.[Santri Hafid]

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url