Terkadang Istiqomah Tidak Selalu Baik

 

           Santri HafidUmumnya di desa-desa terdapat Surau/langgar, tempat ibadah yang lebih kecil dari pada masjid dan dipimpin oleh Kiai langgar. Ada suatu cerita singkat ada seorang Kiai yang selalu istiqomah memimpin salat (menjadi imam) di surau yang dipimpinnya, sampai-sampai tidak ada seorang pun yang dapat menggantikanya.

Namun pada saat ia meninggal, suraunya yang biasanya ramai oleh anak-anak mengaji dan warga sekitar yang biasanya selalu ikut salat berjamaah mendadak sepi dikarenakan tidak ada yang bersedia dan tidak tahu cara menjadi imam untuk menggantikan Kiai yang telah wafat tersebut. Setidaknya ada 2 pelajaran yang bisa kita ambil di antaranya:

Pertama

          Kadang kala kebaikan manusia adalah buruknya. Mengapa bisa disebut dengan demikian? Kita ambil contoh dari cerita di atas, menjadi imam yang istiqomah termasuk dalam kategori amal yang baik.

Namun hal tersebut bisa menjadi buruk ketika Kiai tersebut tidak memberikan kesempatan bagi mereka yang masih muda untuk belajar menjadi imam. Padahal Kiai tersebut bisa saja mengajarkan ilmu bagaimana menjadi imam yang benar sebagai regenerasi imam yang akan datang.

          Contoh kedua: Misalkan Kamu ingin sekali menjadi Kiai, mempunyai banyak santri dan pesantren yang besar lalu berdo’a agar keinginannya tercapai. Hal itu sama saja ia meminta kepada Tuhan agar memperbanyak orang bodoh untuk menjadi santrimu.

Padahal ia sendiri bisa berfikir bahwasanya, semakin banyak orang bodoh semakin banyak masalah yang akan terjadi akibat (maaf) kebodohan mereka. Maka dari itu, contoh saja Nabi kita yang selalu berdo’a skala ‘standar’.Misalkan do’a agar terhindar dari bala’ yang tidak merugikan siapa saja dan malah menguntungkan semua mahluk.

Kedua

          Istiqomah tak selalu baik. Di suatu daerah ada orang yang selalu istiqomah mendirikan salat Dhuha, kemudian hal ini didengar oleh Abdullah Ibn Mas’ud. Beliau pun mendatangi rumah orang tersebut dan menegurnya.”Kamu telah menambahi hal yang wajib! Salat Dhuha itu sebulan sekali!” Tutur Abdullah Ibn Mas’ud,  teguran tersebut mempunyai beberapa arti. Pertama: jangan sampai ibadah-ibadah yang tergolong sunah menjadi wajib terutama sampai memberatkan.

          Kedua: Kecewa dan menjadi masalah. Semua yang kita lakukan pastinya berangkat dari niat, dan niat kita pasti berbeda-beda, yang dipermasalahkan di sini kadang kala salat Dhuha menjadi sarana supaya kita bisa mempunyai banyak harta, tidak miskin dan lain sebagainya.

Umumnya sebagai sarana untuk melancarkan rezeki. Dari niat inilah makna ibadah yang hakikatnya mencari ridho Allah Swt akan hilang berganti dengan ‘pelancar rezeki’. Apabila keinginan yang diusahakan dari salat Dhuha tidak tercapai, saya yakin pasti dia akan merasa kecewa. Kecewa itu pasti tak lepas dari yang namanya keluhan akibat tidak tercapainya keinginan dan berakhir dengan mempermasalahkan salat Dhuha. “Padahal udah salat Dhuha tiap hari, masih tetep miskin aja!!” Nah……..betulkan!!

            Kesimpulannya istiqomah memang lah hal yang baik namun terkadang itu bersifat opsional. Keistiqomahan ibadah yang kamu lakukan jangan sampai memberatkan dirimu sendiri, apalagi sampai memaksa orang lain. Jangan sampai ibadah yang lakukan hanya bertujuan untuk dunia saja melainkan yang paling utama adalah mengharap ampunan dan ridho Allah Swt.[SantriHafid]   


Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url