Ketika Tuhan Beterima Kasih Kepada Pelacur
Santri Hafid - Tuhan memang lah ‘unik’. Betapa tidak? Seperti firmannya dalam Al-Qur’an yang berbunyi “Dia mengampuni siapa saja yang dikehendaki dan mengadzab siapa saja yang Dia kehendaki.” Mulai dari yang kafir hingga kecil dan baru mendapatkan hidayah ketika ajal hampir menjemputnya.
Preman
sekaliber Umar Bin Khattab yang sampai menangiskan air mata ketika dibacakan
kepadanya Al-Qur’an sampai pelacur yang masuk surge hanya gara-gara memberi
minum anjing yang kehausan. Kita tak pernah tau apakah Allah akan berkendak
seperti apa ke depannya. Maka dari itu kita harus berdo’a agar Allah selalu
menempatkan kita dalam naungan cahaya hidayah-Nya.
Namun pernahkah anda mendengar cerita Tuhan yang berterima kasih kepada pelacur? Sebagian tahu dan rata-rata heran dengan judul di atas. Kalau dalam ilmu Fiqih syarat dalam melakukan kebaikan itu ada banyak. Juga dalam Al-Qur’an tidak disebutkan bahwasanya apa bila kita ingin melakukan kebaikan syaratnya harus menjadi Kiai terlebih dahulu, harus kaya, banyak melakukan kebaikan dan lain-lain.
Melainkan di Al-Qur’an hanya tertulis yang artinya adalah “Sesungguhnya orang Yahudi dan orang Nasrani dan para Shabiin yang
beriman kepada Allah dan kepada hari akhir dan yang beramal saleh mereka akan
mendapatkan balasan disisi Rabb-Nya dan tidak ada rasa takut bagi mereka dan
mereka tidak bersedih.[Qs. Al-Baqarah]
Misalnya begini ada seorang pemabuk dan orang yang memalak orang lain namun pada suatu saat ketika ia akan menyebrang jalan ia menyelamatkan anak kecil dari tabrakan. Pertanyaannya adalah apakah harus menunggu ia menjadi orang baik dulu baru bisa menolong anak kecil tersebut? Kalian pasti akan menjawab tidak kan.
Nah sama seperti itu.
Walaupun kita bukan orang baik dan mungkin tergolong ‘bejat’ kita tidak usah
banyak pikir akankah apa yang kita perbuat akan mendapatkan balasan atau tidak.
Dari situlah kenapa firman Allah dalam Al-Qur’an selalu datar seperti ayat yang
di atas. Karena untuk mencegah terjadinya hal yang seperti itu. Dan Pastinya
Allah tidak luput dari amal kita walaupun hanya sekecil biji dzarrah.
Pada zaman dulu ada seorang pelacur yang puang kerja dan saat perjalanan pulang ke rumahnya ia melihat seekor anjing yang tidak berdaya karena kehausan kemudian berkata “Wah kasihan sekali anjing ini.” Behubung karena dia Pelacur jadi ya tidak gengsi.
Kemudia
ia bergegas turun ke sumur dan mengambil air dengan sepatu bootnya dan memberi anjing itu minum. Dan Allah pun berterima kasih
kepadanya karena telah menyalamatkan anjing itu. Bagaimanapun juga anjing itu
adalah hamba Allah. Tak lama setelah itu
Allah pun memberi jalan baginya untuk bertaubat dan jadi perempuan salihah.
Kesimpulan-nya, terkadang amal
saleh itu jatuh kepada orang jahat seperti pelacur tadi. kita tidak pernah tahu
kehendak Allah itu berpihak kepada kita atau tidak. Makanya mulai dari sekarang
jangan pernah berpikiran “Ah…! Apa
gunanya kalau beramal masih tidak ikhlas, apa gunanya kalau seperti itu
kelakukannya masih begitu.” Dan macam-macam lainnya.[Santri Hafid]
