Menelusuri Masalah Pendidikan di Indonesia!
Banyak
yang mengatakan bahwa pendidikan adalah jalan untuk mencapai masa depan yang
gemilang. Namun apa jadinya bila pendidikan yang semestinya diharapkan sebagai
jalan utama untuk mencapai kegemilangan tersebut sudah rusak bahkan tidak lagi
bisa menjadi harapan perubahan untuk mencetak generasi terdidik?
Jawabanya
sudah pasti generasi muda akan hancur karena tidak bisa merasakan
‘manisnya’ pendidikan yang berkualitas. Hal demikian terjadi karena
pendidikan di tanah air kita sudah kehilangan ‘ruhnya’, manusia saja tentu
tidak akan hidup jika tidak memiliki ruh.
Berbanding
terbalik dengan negara-negara yang sudah menyandang predikat sebagai negara
maju seperti; Amerika, Jepang, Finlandia dan negara-negara lainnya.
Negara-negara maju tersebut tentu saja tak lepas dengan sistem pendidikan yang
baik dan juga berkualitas.
Finlandia
adalah salah satu contoh negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia, hal
itu terbukti dari survey yang diadakan oleh penilaian siswa internasional
(PISA) bahwasannya, Finlandia selalu menempati skor terbaik dalam survey
pendidikan yang diadakan sejak tahun 2000.
Negara
dengan julukan 1001 danau tersebut mempunyai peringkat ke-13 untuk skor
matematika PISA, peringkat ke-4 literasi baca, dan peringkat ke-5 untuk sains.
Padahal, sekolah di Finlandia memiliki hari sekolah yang lebih singkat jika
dibandingkan dengan sekolah di negara lain dan mereka tidak melakukan ulangan
atau ujian standar.
Mengapa
hal itu bisa terjadi? Dilansir dari laporan Big Think yang dipublikasikan World
Economic Forum (WEF), sistem pendidikan Finlandia dapat berfungsi dengan baik
karena strukturnya ditopang oleh beberapa prinsip utama:
Pertama
dan terpenting akses yang sama terhadap pendidikan dan siswa diberi kebebasan
memilih jalur edukatif mereka berdasarkan minat dan bakat. Dalam artian siswa
bebas memilih pelajaran, jurusan dan keterampilan mereka sesuai kemampuan dan
bakat masing-masing yang mereka miliki sehingga, Finlandia mendapatkan angka
520 dalam hal membaca, 507 untuk matematika dan 522 terkait dengan ilmu
pengetahuan sedangkan Indonesia mendapatkan angka 371 dalam hal membaca, 379
untuk matematika dan 396 terkait dengan ilmu pengetahuan.
Berbeda
dengan Indonesia yang menganut sistem pendidikan KTSP 2013 (Kurikulum Tingkat
Satuan Pendidikan) dimana sistem pendidikan ini wajib diterapkan di seluruh
lembaga pendidikan yang ada di Indonesia.
Di
dalam sistem KTSP 2013 atau K13 ini siswa diarahkan untuk memahami dan
menguasai semua mata pelajaran yang kurang lebih berjumlah sepuluh mata
pelajaran mulai dari ilmu Sains dengan cabangnya sampai ilmu agama.
Dari
sinilah salah satu penyebab mengapa perkembangan pendidikan di bumi pertiwi
kita ini terasa sangat lamban bahkan stagnan. Karena dalam K13 peserta didik
dipaksa untuk menguasai seluruh mapel yang disediakan, beda halnya dengan
sistem pendidikan yang berada di Finlandia tadi, dimana para siswa diberi
kebebasan untuk memilih mata pelajaran yang mereka sukai, bebas memilih
keterampilan yang mereka mampu dan yang terpenting mereka tidak terbebani
dengan itu semua.
Sekolah
juga diberi banyak ruang untuk merevisi dan mengubah kurikulum sesuai kebutuhan
siswa mereka, dan Indonesia juga menerapkan hal itu semenjak Nadiem Makarim
menjabat sebagai mentri pendidikan walaupun tidak semuanya, hanya saja yang
menentukan kelulusan siswa berada dalam kendali penuh lembaga pendidikan
tersebut.
Tujuan
dan pedoman mereka mendidik adalah "untuk mendukung pertumbuhan siswa
menuju kemanusiaan dan keanggotaan masyarakat yang bertanggung jawab secara
etis dan untuk memberi mereka pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan
dalam kehidupan."
Kedua,
biaya pendidikan Finlandia yang sangat terjangkau. Sehubung dengan kepedulian
masyarakat yang tinggi akan pendidikan, pemerintah Finlandia memberi subsidi
yang besar untuk pendidikan, hal itu terbukti dari sekolah dasar sampai
menengah ke atas diberikan secara gratis. Siswa hanya diharuskan membayar buku,
transportasi, dan perlengkapan sekolah lainnya.
Lain
halnya dengan bangku perkuliahan, orang tua hanya membayar 14 persen dari total
biaya pendidikan, jumlahnya akan disesuaikan berdasarkan pendapatan dan jumlah
anak. Mengutip survey HSBC mengenai biaya pendidikan yang berada di seluruh
dunia, Indonesia masuk ke dalam 15 besar negara dengan biaya termahal.
Survey
tersebut menghimpun dana pendidikan rata-rata mulai dari sekolah paling dasar
hingga tamat pendidikan tinggi dan dapat gelar sarjana di berbagai negara.
Dalam daftar tersebut Indonesia duduk di posisi ke 13 dengan rata-rata biaya
pendidikan yang dihabiskan sejak sekolah dasar hingga sarjana sebesar US$
18.422 atau sebanding dengan Rp 257.908.000 (pada kurs Rp 14.000).
Padahal
bila dibandingkan dengan Indonesia, Finlandia hanya memiliki luas wilayah lebih
dari 333.000k km2 dengan penduduk yang hanya sebesar 5 juta jiwa. Sedangkan
Indonesia memiliki total 1.919.440 km2 luas daratan dengan populasi 270.203.971
juta jiwa beserta sumber daya alam (SDA) yang sangat melimpah, mulai dari
pertambangan, perikanan sampai perkebunan.
Salah
satu contoh kecilnya saja, apabila Indonesia dapat mengelola tambang emas yang
ada di seluruh Indonesia dengan baik. maka masing-masing orang akan mendapakan
1,8 miliar. Dan saya menjamin penuh pendidikan di Indonesia akan murah bahkan
disubsidi penuh oleh pemerintah. Negara maju sekaliber Prancis pun, biaya
pendidikannya menduduki peringkat terakhir dengan biaya berkisar diantara US$
16.708 atau berkisar Rp 233.912.000.
Walhasil,
di sektor pendidikan Indonesia menempati peringkat ke-72 dari 77 negara,
menjadikan Indonesia bercokol di peringkat enam terbawah, masih jauh di bawah
negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Brunei Darussalam.
Kesimpulanya,
ada dua faktor besar penghambat mengapa pedidikan di Indonesia sulit berkembang
atau bersaing dengan negara-negara tetangga seperti Brunei Darussalam dan
Malaysia. Pemerintah Indonesia harus mengerahkan tenaga yang besar untuk
membenahi sistem pedidikan supaya bisa lebih efektif dan lebih efisien. Menekan
dan mencari solusi mengenai permasalahan biaya agar pendidikan di Indonesia
bisa dirasakan oleh semua lapisan masyarakat.[Santri Hafid]
